<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10893140</id><updated>2011-04-22T05:09:06.059+02:00</updated><title type='text'>makalah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://makalahislam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://makalahislam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>makalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11578463260023202037</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10893140.post-111260456876732674</id><published>2005-04-04T10:46:00.000+02:00</published><updated>2005-04-04T10:49:28.773+02:00</updated><title type='text'>Dibutuhkan; Otokritik</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;oleh: Anis Masduki*&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;Dalam mengapresiasi tradisi Islam, paling tidak ada dua fenomena yang sama-sama hidup dan masih 'bergetar' saat ini. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, mempelajari Islam sebagai sebuah ajaran untuk diamalkan. Mereka adalah komunitas yang sedang ingin mengerti dan menyelami wawasan normatif Islam. Kedua, pekerjaan mengkaji Islam yang dilakukan dengan menjadikan Islam sebagai objek kajian. Komunitas kategori ini bisa mungkin seorang pemikir, sejarawan, ilmuwan, sosiolog, maupun antropolog.&lt;br /&gt;Pada fenomena pertama, tempat di mana mereka mempelajari tentu akan lebih strategis dan representatif apabila berada di negara yang menjadi ‘pusar’ Islam (center of Islam). Geografi yang menjadi lumbung tradisi berupa kekayaan data teks (literatures), tradisi budaya maupun aspek fenotip dari sebuah budaya berupa institusi dan seterusnya. Mempelajarinya adalah bagian dari tindakan keberagamaan.&lt;br /&gt;Sedangkan pada fenomena kedua, tujuan dari pekerjaan ini adalah mengkaji Islam bukan untuk memperluas wawasan normatif, akan tetapi dengan pendekatan tertentu dan berdiri di luar, berusaha menganalisa wawasan normatif itu sendiri. Islam dalam hal ini diposisikan sebagai subject matter. Fenomena ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak harus seorang muslim tapi juga non muslim baik di timur maupun di barat. Keberagamaan dalam konteks ini setingkat lebih tinggi dari yang pertama.&lt;br /&gt;Yang terasa ironis, pengkajian Islam sebagai subject matter justru berkembang pertama dan semarak sampai saat ini di barat. Perangkat metodologis yang menjanjikan dan selalu berkembang secara dialektis, agaknya memiliki peran mutlak dalam menjadikan pengkajian Islam di barat lebih dinamis dan produktif. Pengkajian Islam di barat seringkali memunculkan hasil yang tidak terduga disebabkan karena mereka bisa merambah aspek yang selama ini 'tidak tersentuh' oleh komunitas Islam. Di lain sisi, sebagian komunitas Islam yang 'terlanjur' menjadikan Islam sebagai system of belief cenderung destruktif di dalam merespon fenomena ini.&lt;br /&gt;Perbedaan seorang muslim dan non muslim dalam pengkajian level ini barangkali bukan pada derajat penguasaan wawasan normatif Islam maupun metodologi sebagai 'pisau analisa' yang digunakan. Akan tetapi perbedaan itu lebih terletak pada sepi tidaknya ikatan emosional yang terdapat pada benak seorang peneliti Islam. Sebongkah emotional attachment dalam upaya penelitian tentu menggantung dalam pribadi seorang peneliti muslim. Di samping itu, mereka lama hidup dalam geografi yang mempunyai historical context cukup kuat.&lt;br /&gt;Sedangkan perbedaan lain boleh jadi ada pada tujuan dari pengkajian itu sendiri. Seorang muslim akan menyorot obyek kajian dalam rangka mengkritisi tradisi yang menjadi afiliasi mereka dalam rangka transformasi. Tradisi adalah properti dan mereka merupakan bagian darinya. Sehingga yang sesungguhnya terjadi pada konteks ini adalah proses otokritik dan evaluasi yang menghantarkan mereka pada penyegaran, dekonstruksi, dan rekonstruksi tradisi. Sedangkan yang terjadi pada pemikir non muslim – meski tidak bisa dipukul rata – meneliti obyek kajian semata demi penelitian itu sendiri, keperluan data, bahkan sebuah hidden agenda.&lt;br /&gt;Sketsa Otokritik, Beyond Tradisi&lt;br /&gt;Jika pengkajian Islam semarak dan berkembang di dunia barat, bukan berarti ia sama sekali tidak dilakukan oleh para pemikir muslim di dunia timur. Mulai  akhir abad ke 19 M, ketika bendera kebangkitan Islam mulai dikibarkan, meroketlah beberapa pembaharu Islam yang melakukan studi kritis terhadap tradisi dalam bayang-bayang fenomena Islam kontemporer. Sebut saja al Afghani dan Mohamad Abduh, yang terakhir adalah adalah sosok cemerlang yang menjadi 'bapak' dari para intelektual kritis yang datang belakangan. Gagasan-gagasan yang ia propagandakan adalah embrio bagi pemikiran Islam kontemporer.&lt;br /&gt;Peran al-Afghani sering diidentikkan dengan Socrates, sedang Abduh adalah sosok Plato. Dalam perkembangannya, posisi Abduh identik dengan sosok Hegel dalam sejarah pemikiran barat. Sebagaimana terjadi split pada pemikiran Hegel ke dalam dua poros yang bertentangan: Hegelian Kanan dan Hegelian Kiri, begitu juga yang terjadi pada Abduh.&lt;br /&gt;Lajur kanan dalam pemikiran Abduh terepresentasi pada Rasyid Ridha. Ridha adalah murid kesayangan Abduh. Akan tetapi, batas pemikiran Abduh di tangan Ridha menjadi semakin “menganan”, literalis dan skripturalis. Dari kultur berpikir kanan yang ditradisikan itu muncullah para pemegang estafet selanjutnya dan mencapai titik kulminasi ekstrim pada figur Sayyid Quthb.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam lajur kiri pemikiran Abduh kita kenal tokoh semisal Qasim Amin, Luthfi al Sayyid, Thaha Husain dan Ali Abdurraziq. Tokoh-tokoh ini mendesain model Islam alternatif dengan menampilkan nilai-nilai progresifitas, liberasi dan inklusivitas Islam. Model pemikiran mereka yang liberal mendapat apresiasi sangat besar dari kalangan intelektual pada masanya, seperti salutisme Husain Haikal dan Muhammad Imarah terhadap pemikiran Qasim Amin dalam Tahrîr al-Mar`ah.&lt;br /&gt;Sekarang, apabila kita berbicara tentang gerak liberasi Islam dalam batas kereta yang paling kontemporer, maka akan kita temukan karakter kritis-liberatif pada figur – untuk menyebut beberapa – Mohamad Arkoun (linguistik), Muhamad Abid al Jabiri (strukturalisme), Husain Marwah (historisisme), Hassan Hanafi (fenomenologi) dan Nasr Hamid Abu Zaid (hermeneutika). Mereka adalah lokomotif kereta pemikiran liberal Islam yang terus meletakkan tradisi dan modernitas di atas meja bedah dialektika untuk melampaui tradisi menuju tradisi baru yang progresif, transformatif dan liberatif.&lt;br /&gt;Menolak Kritik, Membunuh Tradisi&lt;br /&gt;Hajat rekontruksi terhadap pemikiran Islam mustahil dilakukan tanpa terlebih dahulu merumuskan sikap yang tepat di dalam menyikapi tradisi. Bagi penulis, rumus yang tepat dalam rangka itu adalah pola pendekatan dengan paradigma analisa kritis. Analisa kritis adalah kata kunci yang berarti perlawanan terhadap segala pola pendekatan stagnan yang berkarakter repetitif, normatif dan nostalgis.&lt;br /&gt;Kewenangan melakukan analisa kritis paling tidak mendapat justifikasi dengan argumentasi bahwa tradisi merupakan milik bersama (public property). Tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli tradisi menjadi miliknya. Di samping itu, para ulama klasik pada kenyataannya telah mewariskan kepada kita sekian tradisi, maka kita berhak memikirkannya, menganalisa dan berijtihad sebagaimana mereka telah berijtihad.&lt;br /&gt;Para ulama bagaimanapun juga adalah manusia yang tidak seratus persen benar. Dalam berijtihad kita tidak diwajibkan untuk berkiblat mentah-mentah kepada frame dan metodologi ijtihad yang mereka kontruksikan. Kita boleh berbeda, karena bisa jadi kontruks metodologi yang mereka pakai mempunyai kelemahan atau faktor sejarah telah membuatnya lekang karena panas dan lapuk karena hujan.&lt;br /&gt;Ada kalanya tindakan kritik terhadap tradisi mendapatkan perlawanan yang sangat keras. Perlawanan itu berupa sikap defensif melestarikan jenis metodologi dan gagasan-gagasan kovensional yang telah usang. Perlawanan itu seringkali berlindung di balik jubah para ulama klasik yang sama-sama kita segani. Mereka memperlakukan kritik – dengan makna imliahnya; analisa dengan metodologi analisa wacana – sebagai musuh yang harus dihabisi dengan cara menempelkan label suci pada teks dan klaim monopoli 'hak bicara'  atas tradisi.  &lt;br /&gt;Kalangan liberal menyukai paradigma kritis berangkat dari keyakinan bahwa teks tidak sedikitpun berkurang 'kesuciannya' dengan terus menerus dikritik dan ditafsirkan. Teks justru semakin kelihatan agung dan wibawa apabila ia membuka ruang selebar-lebarnya bagi usaha kritik dan kemungkinan reinterpretasi kapanpun dan di manapun. Komunitas ini juga lebih mengimani bahasa dialektika dari pada indoktrinasi.&lt;br /&gt;Sudah waktunya suara lantang diteriakkan untuk mengimbangi fenomena keberagamaan dengan beban nalar regresif yang ingin memfosilkan tradisinya. Analisa kritis adalah satu-satunya cara untuk keluar dari bayang-bayang tradisi dan hegemoni monolitik yang timpang. Mengkritik bukanlah suatu dosa, bukan juga tindakan keluar dari agama. Dalam kondisi umat Islam yang ratusan tahun tak tersentuh oleh kritik, justru kritik lantang perlu dilakukan berlipat-lipat. Maka mengkritiklah hingga engkau dianggap gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;di kirim oleh : Anis Masduki, Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo, Fakultas: Islamic Law (&lt;em&gt;Syariah Islamiyyah&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10893140-111260456876732674?l=makalahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://makalahislam.blogspot.com/feeds/111260456876732674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10893140&amp;postID=111260456876732674' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/111260456876732674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/111260456876732674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://makalahislam.blogspot.com/2005/04/dibutuhkan-otokritik.html' title='Dibutuhkan; Otokritik'/><author><name>makalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11578463260023202037</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10893140.post-110907767705355571</id><published>2005-02-22T15:05:00.000+02:00</published><updated>2005-02-22T15:11:33.426+02:00</updated><title type='text'>TEOLOGI NEGARA SEKULAR: SUBSTANSI DAN METODOLOGI</title><content type='html'>&lt;div align="justiy"&gt;Sejak didirikan pada 8 Maret 2001, kelompok diskusi (Milis) Islam Liberal (&lt;a href="mailto:islamliberal@yahoogroups.com"&gt;islamliberal@yahoogroups.com&lt;/a&gt;) telah mendiskusikan berbagai hal mengenai Islam, negara, dan isu-isu kemasyarakatan. Kelompok diskusi yang dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Diskusi berikut mengangkat isu Teologi Negara Sekular, sebuah tema yang digulirkan pertama kali oleh Denny JA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denny JA:&lt;br /&gt;Rekan-rekan, untuk memberi fokus diskusi kita yang semakin panas, dengan aneka tulisan dari Rizal, Saiful, Hamid, AE Priyono, Luthfi, komunitas Islam Liberal di Indonesia, saatnya mengembangkan sebuah teologi tersendiri (yang sah secara substansi dan metodologi), yaitu Teologi Islam Liberal. Ini sebuah filsafat keagamaan yang bersandar kepada teks dan tradisi Islam sendiri, yang memberi justifikasi kepada sebuah kultur yang liberal.&lt;br /&gt;Dalam politik, teologi itu menjadi teologi negara sekular. Yaitu sebuah filsafat keagamaan, yang menggali dari teks dan tradisi Islam, yang paralel ataupun menjustifikasi perlunya sebuah negara yang sekular (sekaligus demokratis). Saya menyusun empat prinsip dasar bagi landasan dari teologi negara sekular. Prinsip itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1). Negara nasional adalah evolusi tertinggi dari komunitas politik. Dengan lahirnya negara nasional, berbagai upaya untuk membangun kekhalifahan global (semacam otoman empire ataupun federasi negara Islam yang memiliki satu imam) tidak penting dan tidak perlu. Waktu dan enerji yang ada harus diberikan kepada pembangunan negara nasional, bukan supra-nasional.&lt;br /&gt;2. Dalam negara nasional, warga negara berasal dari agama yang beragam. Karena mereka adalah warga dari negara yang sama, hak-hak sosial dan politik mereka (termasuk hak untuk duduk dalam jabatan politik, seperti presiden) adalah sama. Konsekwensinya, semua warga negara, apapun agamanya berhak mendirikan partai politik, dan berhak memperebutkan jabatan pemerintahan.&lt;br /&gt;Dengan sendirinya, negara Islam tidak mungkin sesuai dengan prinsip equal opportunity bagi semua warga negara. dalam negara Islam, hukum Islam menjadi konstitusi negara. Pemimpin politik nasional mustahil datang dari agama yang berbeda dari Islam. Orang yang bukan Islam menjadi warga negara kelas dua, karena sistem tidak memungkinkannya menjadi pemimpinnasional, yang akan tunduk pada hukum Islam (bagaimana mengharapkan hukum Islam dijalankan oleh orang yang tidak percaya kepada hukum Islam karena tidak beragamaIslam). Negara demokrasi yang berkembang di barat, kini menjadi keharusan religius bagi pengaturan masyarakat yang beragam secara agama. Hanya dalam kerangka demokrasi itu, equal opportunity bagi warga negara yang beragam dilindungi.&lt;br /&gt;3. Ilmu pengetahuan dan manajemen modern lebih mendominasi day to day politics. Bagaimana membuat sebuah public policy (mulai dari agenda setting, policy formulation, policy adoption, policy implementation dan policy evaluation) agar policy itu berguna bagi orang banyak, dan semakin kecil unsur kesalahannya, harus semakin diatur oleh pengalaman sebelumnya dan kreativitas baru, yang tercermin dari perkembangan ilmu pengetahuan dan manajemen modern. Process dari Policy Making itu semakin tidak perlu disentuh oleh doktrin agama. Untuk hal di atas, semakin sedikit keterlibatan agama, semakin baik. Atau dalam bahasa kerennya: the best religion is the least religion (untuk kasus day to day politics). Biarkan prinsip ilmu pengetahuan dan manajemen modern yang menjadi ruhnya.&lt;br /&gt;4. Islam hanya terlibat sebagai sumber moralitas bagi aktor pemerintahan (bukan sistem pemerintahan) dan moralitas bagi dunia publik. Namun moralitas di sini adalah moralitas umum, yaitu prinsip perilaku baik, yang juga diharuskan oleh agama lainnya dan filsafat lainnya. Landasan moral bagi kehidupan publik, dengan sendirinya menjadi tugas bersama semua agama besar (tidak hanya bersumebr dari doktrin Islam).&lt;br /&gt;Dengan empat prinsip dasar di atas, sebuah teologi Negara Sekular dari tradisi dan teks Islam, niscaya akan menjadi sebuah revolusi paham keagamaan yang sangat penting. Teologi itu akan menjadi dasar bagi berkembangnya civic culture di negara yang mayoritasnya muslim, yang pada gilirannya akan menjadi lahan subur bagi tumbuh dan terkonsolidasinya demokrasi.&lt;br /&gt;Satu sumber bacaan yang dapat dikembangkan untuk teologi negara sekular dalam Islam adalah karya Ali Abd al-Raziq. Secara tegas ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembawa risalah kebenaran, dan bukan seorang raja, Islam adalah sebuah agama, dan bukan sistem pemerintahan, ISlam diturunkan untuk mensucikan hati nurani manusia, bukan untuk membangun negara. (Argumen selanjutnya dari Raziq dapat dibaca di Islamic Liberalism (Leonard Binder) dan Liberal Islam (Kurzman).&lt;br /&gt;Memang, tanpa teologi Negara Sekular, toh negara sekular yang demokratis tetap dapat berdirisebagaimana terjadi di seluruh dunia. Namun untuk Indonesia, teologi Negara Sekular akan membuat berdirinya negara sekular yang demokratis akan lebih berakar, karena ditopang oleh kultur Islam sendiri (yang diinterpretasi ulang).&lt;br /&gt;Pengalaman negara Turki menjadi pelajaran beharga buat kita. Lebih dari 40 tahun, demokrasi di negara itu tidak terkonsolidasi karena pertarungan kultur barat dan Islam yang tak berkesudahaan. Islam Liberal sebenarnya adalah common ground bagi dunia barat dan dunia Islam, dan negara sekular yang demokratis adalah pengejawantahannnya yang praktis di dunia publik. Sayangnya di Turki, negara sekular yang demokratis hanya dijustifikasi oleh kultur barat, sedangkan kultur Islamnya sendiri masih didominasi oleh yang anti negara sekular demokratis.&lt;br /&gt;Berangkat dari pengalaman Turki itulah, komunitas kita dapat memanggul tugas generasi (dan tugas sejarah) yang sangat heroik (jika berhasil). Yaitu membuat negara sekular yang demokratis memperoleh justifikasi religius dari teks dan tradisi ISlam sendiri, melalui dikembangkan teologi Negara Sekular (sebagai bagian dari Teologi Islam Liberal). Realistiskah harapan ini?&lt;br /&gt;Hadimulyo:&lt;br /&gt;Menarik ide Denny ini. Terus terang, lugas, dan jujur. Namun begitu, saya ingin berbagi pengalaman saja tentang ketegangan kreatif dalam melihat hubungan antara agama dan negara ini baik dalam dataran konseptual maupun politik praktis di Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, sebenarnya pertarungan ide antara nasionalisme sekular dengan nasionalisme Islam sudah berlangsung. Sejak jalan buntu konstituante, pergulatan ide tersebut tetap menarik bahkan sampai sekarang. Dan jika Denny melihat perlunya suatu teologi yang relevan bagi Indonesia yang mayoritas islam, sekaligus memberikan justifikasi bagi demokrasi, teologi itu tidak perlu dicari jauh-jauh, tetapi berdasar atas pengalaman historis Indonesia.&lt;br /&gt;Sebagai muslim, kita semua mengetahui secara historis Islam adalah agama (wahyu) yang terakhir. Sebagai agama yang terakhir, saya termasuk yang mempercayai Islam adalah menyempurnakan ajaran-ajaran agama yang terdahulu, termasuk agama Nasrani. Nah, yang menjadi masalah, di Indonesia, justru Islam datang terlebih dulu dibanding dengan Kristiani. Yang terakhir ini, kita semua tahu, datang ke Indonesia bersama penjajahan bangsa-bangsa Eropah yang juga menawarkan modernitas, termasuk ide tentang pemisahan agama dan negara. Turki mencoba ini, tetapi banyak yang menilai gagal. Indonesia juga, meskipun malu-malu, yang menang dalam pertarungan ide selama ini adalah kaum nasionalis sekular, sejak Orla dan Orba. Dan gagal. Termasuk ketika kini di bawah Presiden Wahid sebagai representasi par exellence dari so called ' Islam kultural.'&lt;br /&gt;Nah, dengan kegagalan ini, sesuai dengan prinsip liberal, ada baiknya kita beri kesempatan bagi kalangan Islamis di Indonesia untuk menawarkan ide bagaimana membumikan Islam sebagai rahmatan li al-'alamiin, termasuk di bidang politik, karena ajaran Islam juga memuat prinsip-prinsip mengatur urusan-urusan publik ini. Dalam kehidupan ekonomi, sistem perbankan alternatif dari sistem riba yang berasal dari Yahudi, sejah tahun 1990-an sudah mulai dicoba di Indonesia, mulai dari Bank Muamalat sampai dengan bait al maal wa attamwil yang menawarkan alternatif terhadap rentenir di desa-desa. It works. Tentu saja ajaran-ajaran ini memerlukan teoretisasi, objektivikasi (Kuntowijoyo), bahkan bilamana perlu falsifikasi. Kenapa takut?&lt;br /&gt;Hamid Basyaib:&lt;br /&gt;Deklarasi "Teologi Negara Sekular"-nya Denny kelewat cepat. Saya kira kita perlu mengeskplorasi banyak aspek dulu sebelum melompat ke sana. Dokter yang baik, berbeda dari dukun yg buruk, perlu mendiagnosis cermat dulu sebelum menulis resep. Ingat, Den, menurut Celli, urusan begini di Barat perlu lima abad. Kita tentu perlu mengakselerasinya. But, Guy, even the most accelerative version cannot be handled only in three weeks. (Den, kita perlu ngalor-ngidul dulu, dong; Anda langsung mau ngalor saja; supaya ketika tiba di Stasiun Utama Islam Liberal, pertanyaan paling cerewet pun dari para penyambut bisa dijawab, karena kereta kita sudah mampir bahkan ke tempat2 yg tak mereka duga; supaya kita bisa bilang, "Saudaraku, telah kuarungi segenap lembah dan ngarai dan jalan-jalan terjal").&lt;br /&gt;Tapi bahwa Denny langsung masuk ke substansi, saya hargai. Inilah yang saya harapkan sejak awal: kita hendaknya lebih banyak menyampaikan interpretasi pribadi (bukan penghayatan pribadi atas ajaran agama, seperti pernah dikeluhkan Denny) untuk mengisi Islam-liberal ini. Kita semua mungkin belum mencapai kualifikasi produsen; tapi pasti kita juga tak mungkin cuma jadi konsumen. Menganalogi Toffler, dalam proyek ini baik kita pilih sikap prosumer (producer &amp; consumer). Let's make the project richer and richer; let's give some flesh and blood to the Islam-liberal bone. Bukankah kita sebisa-bisanya terutama menjadi aktor dalam Islam-lib movement, dan bukan sekadar ingin menjadi reviewer atau ahli history and development of the Islam-liberal?&lt;br /&gt;Apa salahnya kalau ada sekumpulan warganegara ingin diakomodasi aspirasi keagamaannya oleh negara? Bukankah itu wajar dan sah dalam demokrasi? Apalagi, mereka yakin Kitab Suci memang banyak bicara tentang isu2 sosial-politik. Kalau tak salah Khomeini pernah menghitung: perbandingan antara isu sosial dan ibadah formal dalam Quran adalah 100 (ayat): 1. Faktanya ada berjuta-juta orang yang ingin demikian, terutama dari Islam, meskipun bukan satu2nya. Tidak mungkin kita mengabaikan aspirasi sedemikian banyak warganegara, jika kita ingin tetap disebut demokrasi.&lt;br /&gt;Otoritarianisme berbaju demokrasi (yang diembel-embeli dengan "Rakyat", "Terpimpin", "Pancasila", dsb) tak perlu kita ulangi. ("Demokrasi ya demokrasi!" kata Saiful). Maka persoalannya bukan apakah para aspiran religius itu boleh memajukan agendanya atau tidak, tapi jenis dan bentuk aspirasi religius seperti apa yang mungkin diakomodasi; yang bukan justeru menghancurkan sistem demokrasi; yg tidak merugikan aspirasi agama2 lain. Menarik rambut tanpa membuyarkan tepung memang tak pernah gampang.&lt;br /&gt;Repotnya, rezim2 kita, sampai sekarang, selalu mau enaknya sendiri dalam menghadapi para aspiran itu. Yang mereka akomodasi hanya yang berbau duit, terutama bisnis haji -- sebuah captive market bernilai sekitar Rp 6 triliun per tahun. Atau bisnis zakat, yg dikelola badan semi-pemerintah. Atau stiker halal buat semua makanan dan minuman kemasan, sebuah bisnis yg bisa lebih besar dari haji, dan hampir saja diraih oleh pemerintah 3 tahun lalu. (Saya yakin, kalau salat dan puasa harus bayar, pemerintah tentu memonopoli proyek ini dan tak akan mau mentenderkannya). Pemerintah, kata orang Solo, urik (curang); sementara praktek2 yg dirasa menyinggung religiusitas orang2 itu dibiarkan, kalau bukan didukung dengan meriah (dibekingi oleh "oknum" tentara segala). Maka FPI turun ke jalan dg aksi2nya yg nggak ketulungan itu (terlepas dari apakah mereka diperalat dan diongkosi oleh faksi politik tertentu atau tidak).&lt;br /&gt;Jadi, seperti kata Celli, urutan teoretisnya: sebelum mereformasi sistem politik, yang perlu direformasi adalah (pemahaman) agamanya dulu; meski dalam praktek keduanya tentu harus diupayakan simultan. Bagi saya ini langkah yg paling realistis, karena berpijak kuat pada sociological hard-fact, demi kokohnya demokrasi yang mau kita bangun. Sebab para penganut agama, di mana-mana, di setiap zaman, tampaknya digerakkan oleh impuls kuat untuk mendesakkan agenda agamanya ke gelanggang negara. Memang hanya ulama Islam yg terang2an menyatakan agamanya sbg ad-din wa daulah (Islam adalah agama sekaligus negara), tapi kenyataannya kan semua pemuka dan umat agama bersikap demikian?&lt;br /&gt;Bukankah sukses people's power di Filipina (dua kali pula!) banyak dibantu oleh Kardinal Jaime Sin? Saudara-saudara, jangan lupa: salah satu figur politik paling menonjol di abad ke-20 adalah Dalai Lama, yg agamanya sangat nonpolitis itu. Jelas sekali Dalai Lama bermanuver politik sangat canggih: bikin "negara mini" di Dharamsala India (bukan di negeri lain; dan dia tahu, kehadirannya bisa dijadikan kartu politik oleh India untuk menghadapi Cina), dan sesekali menggoda Cina dg berkunjung ke Taipeh.&lt;br /&gt;Mungkinkah mereformasi pemahaman agama? Jelas mungkin, kalau kita bicara dalam skala dekade – contoh suksesnya banyak sekali. Kita semua tahu, dalam 30 tahun sejak sekularisasi Nurcholish sudah banyak perubahan. Tentu masih ada saja ceceran2 sisa ketertutupan, misalnya yg menimpa Ihsan dan saya di Republika. Adapun "Negara Islam" saya kira makin lemah sbg isu, karena makin disadari bahwa landasan teologis untuk itu memang tidak ada. (Saya kira, kegagalan Piagam Jakarta dulu itu juga sedikit-banyak karena konseptualisasi teoretis protagonis Islam sangat tidak meyakinkan; terlalu berkobar semangat, terlalu redup konsep).&lt;br /&gt;Saya bisa kenalkan Anda dg kelompok2 kecil yg masih menyimpan aspirasi ini, tapi --semoga saya benar -- kuantitas aspirannnya dan kualitas argumennya insignifikan. Mayoritasnya sudah jadi rebels without cause. Mungkin mereka ini mirip kelompok2 fundamentalis-radikal Kristen Amerika (ada yg berseragam militer segala; seperti yg meledakkan gedung di Oklahoma tempo hari). Atau seperti kaum skinhead dan neo-Hitler di Jerman.&lt;br /&gt;Menetralisasinya gampang: kasih peluang kerja dan standar kemakmuran yg lumayan. Fundamentalisme (radikal) saya kira lebih merupakan gejala ekonomi ketimbang religius. Kita semua tahu, agama (juga etnisitas) adalah kendaraan yang nyaman untuk ditumpangi oleh the deprived people. Pernahkah Anda dengar turis asing disandera atau ditembak di Mesir dalam 4 tahun terakhir? Para turis Barat itu kini dilindungi oleh proyek2 pembangunan dan kemakmuran yg mulai menciprati kaum fundamentalis.&lt;br /&gt;Buat saya, tanpa meremehkan potensi destruktif fundamentalis, yg penting diperhatikan adalah kaum Muslim moderat (termasuk kelas-tengah perkotaan). Mereka ini memang tidak mau bikin negara Islam, tapi karena pada dasarnya hidup di gereja Islam abad pertengahan (tapi tarawih di hotel bintang-5 dengan blue jean dan handphone dan sedan), mereka sulit diajak berdemokrasi; mereka terus mengobarkan cold war dg umat lain; mereka terus merasa kesalehannya diukur dari sebesar apa mereka menyediakan peluang bagi golongan sendiri, jika bukan seraya memojokkan secara sosial-politik kaum lain.&lt;br /&gt;Social setting Madinah era Nabi, dengan penekanan pada ketegangan hubungan Yahudi-Kristen-Islam, terus diduplikasi di lahan2 modern, termasuk di instansi2 militer. Itu sebabnya ketika beberapa jenderal memperlebar medan petualangannya ke kantong2 political Islam, mereka cepat mendapat sambutan hangat. Sebab jenderal2 itu pun ikut mengeja dg fasih sebuah hadis yg kerap dikumandangkan sbg penutup diskusi analisis situasi: "Kaum Yahudi dan Nasrani itu tak akan senang sebelum menyeretmu sampai ke lobang biawak." (Saya tidak bilang bahwa minority-complex kalangan Kristen steril dari semangat serupa; tapi saya sedang melihat dari kamp Islam).&lt;br /&gt;Mereka mungkin mirip kaum Kristen "fundamentalis-moderat" Amerika seperti Moral Majority Jerry Falwell dan para televangelis lainnya. Jumlah mereka signifikan. Sebuah Christian-Coalition mudah terbentuk. Mereka mungkin bukan mau menjadikan Amerika sbg negara Kristen; tapi mereka sulit, dan kini rupanya cenderung makin sulit, untuk beramah-tamah dg umat agama lain.&lt;br /&gt;Kalau fakta2 sosiologis itu diabaikan, program Islam-liberal Indonesia bisa berakhir pada dua kemungkinan: Turki (dan Aljazair dan Tunisia) atau Iran (dan Afghanistan, Pakistan, Sudan). Gimana, Kang Ipul, ngawur nggak? Saya sangat menantikan bunyi terompet2 lain.&lt;br /&gt;Denny JA:&lt;br /&gt;Deklarasi Teologi Negara Sekular itu sengaja dilepas secepatnya, hanya dalam rangka menstimulasi diskusi. Empat prinsip dasar yang saya susun itu hanya embrio yang kelak bisa dibongkar pasang, tergantung akumulasi diskusi dan bacaan baru.&lt;br /&gt;Mau tidak mau, suka atau tidak suka, semua formulasi konseptual yang matang tentang apapun memang harus melalui jalan terjal dulu dan dilezatkan oleh perkelahian paling liar dari dunia ide. Proses ini tidaklah hendak ditolak, atau dipercepat.&lt;br /&gt;Namun, dengan mendeklarasikan teologi Negara Sekular secara cepat, setidaknya kita sudah meletakan target adanya cahaya di ujung lorong gelap yang sangat panjang. Bahwa hasil akhir dari segala proses dan lorong itu adalah sebuah teologi Negara Sekular (untuk politik) dan Teologi Islam Liberal (untuk yang lebih umum). Deklarasi atau manifesto itu yang saya formulasikan dalam empat prinsip besar, terbuka dan sangat diharap untuk dikritik dan dikembangkan. Para anak cucu kita kelak akan bercerita, bahwa pada satu masa, ada mailing list yang secara keras berdiskusi tentang dua teologi itu. Baru di zaman para anak dan cucu kita itu mungkin teologi yang kita dambakan ini terformulasi dan menjadi inspirasi gerakan di Indonesia, ataupun negara mayoritas muslim lainnya, sebagaimana teologi pembebasan di Amerika Latin tahun 70 dan 80-an. Ini semacam romantisme yang diperlukan untuk menjaga semangat dan stamina pencarian kita.&lt;br /&gt;Sebagaimana di Turki, di Indonesia, dari Ibu kandung kultur Islam dan ayah kandung kultur barat, haruslah lahir anak yang mewarisi bakat baik keduanya. Islam Liberal dan teologi negara sekular adalah anak yang diharapkan. Semoga anak ini tidak lahir sungsang:), apalagi mengidap cacat bawaan :).&lt;br /&gt;Ade Armando:&lt;br /&gt;Pandangan Hamid itu sangat bagus sekali. Tapi semoga optimisme tentang pengaruh Cak Nur agak kejauhan. Saya rasa apa yang Anda sebut kalangan 'Islam moderat' yang hidup dalam era gereja abad pertengahan adalah bukti bahwa pesan-pesan Cak Nur sebenarnya nggak sampai. Mereka cuma meminjam fatwa Cak Nur tentang tidak haramnya menjadi modern dan sekular, namun mengabaikan --hampir-- sama sekali gagasan-gagasan substantif Islam yang memerdekakan.&lt;br /&gt;Denny JA:&lt;br /&gt;Bung Hadimulyo, Terima kasih banyak atas komentarnya. Namun terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa Islam liberal (pemisahan agama dan negara) di Indonesia sudah gagal, apalagi harus memberi kesempatan kepada interpretasi Islam lainnya.&lt;br /&gt;Untuk sistem politik, memberi kesempatan eksperimen kepada tipe regime di luar regime demokrasi, sangatlah berbahaya. Eksperimen di labolatorium yang gagal, hanya akan merugikan waktu dan biaya. Namun eksperimen sosial dan politik yang gagal, akan menyebabkan hilangnya beberapa generasi.&lt;br /&gt;Negara sekular yang tidak demokratis memang sudah gagal (untuk Indonesia adalah kasus Orde Lama dan Orde Baru). Namun negara sekular yang demokratis tidak bisa dikatakan gagal (dengan contoh kasus presiden Gus Dur), karena negara sekular demokratis di Indonesia belum dimulai. Yang ada barulah "transisi menuju", dan bukan situasi demokrasi yang terkonsolidasi. kegagalan transisi di bawah Gus Dur juga bukan disebabkan kegagalan konsep demokrasi atau Islam kultural (term yang lain lagi), tapi semata-mata karena kegagalan leadership Gus Dur. Kegagalan leadership ini dapat terjadi di semua negara dan kebudayaan. Itu tak ada hubungannya dengan negara sekular, Islam liberal ataupun Islam kultural.&lt;br /&gt;Aneka kegagalan itu justru semakin menguatkan ide perlunya sebuah teologi baru yang berangkat dari teks dan tradisi Islam, teologi negara sekular yang demokratis. Mudah-mudahan, suatu ketika, entah kapan, ujung dari diskusi di mailing list ini berhasil memformulasikan secara sahih the so called "Teologi Negara Sekular (yang demokratis).&lt;br /&gt;Saiful Mujani:&lt;br /&gt;Menurut saya, "fundamentalisme Islam" dan "fundamentalisme Kristen" tidak bisa dibandingkan terutama dalam kaitannya dengan masalah hubungan agama dan negara. Betul bahwa agenda-agenda keagamaan tertentu ingin dijadikan kebijakan publik (misalnya larangan aborsi, homo, dll.) dan karena itu meminta perhatian state, oleh kelompok-kelompok fundamentalis tertentu tertutama dalam kasus di AS, tapi pada dasarnya mereka tidak punya cukup peralatan dan legacy untuk membenarkan negara disubordinasikan ke dalam wilayah agama. Sementara dalam kasus fund islam, agenda itu kuat dan punya akar sejarah yang cukup panjang. Kalau mau disderhanakan, antara keduanya dapat dikatakan begini: Kristus datang bukan sebagai pendiri dan pelaksana sebuah negara, sementara Muhammad datang sebagai pendiri dan pelaksana yang sukses dari sebuiah polity Islam.&lt;br /&gt;Dari awal memang beda, dan ini melahirkan warisan yang berbeda juga dalam prosesnya kemudioan di antara dua umat ini. Jada penyataan "negara Islam" dapat dicari pembenarannya dari nabi. Kan nabi adalah teladan bagi umat. Ini bisa diperdebatkan, tapi find islam punya ruang historis untuk membenarkan gerakan politiknya. Dalam konteks sekarang, kata "negara Islam" itu bukan slogan, ada contoh kongkritnya lepas dari kita setuju atau tidak: Iran, Afghanistan, dan Sudan. Sekarang PPP dan partai-partai Islam lain masih mengagendakan piagam Jakarta. Kalau kelompok fund Islam dijelaskan secara sosial ekonomi, ya kita udah lama dengan penjelasan ini, dan makin lama, saya merasa penjelasan itu makin tidak meyakinkan.Untuk ini engga perlu elaborasi, kan?&lt;br /&gt;Ismail Budhiarso:&lt;br /&gt;Langsung saja saya mau bertanya kepada Denny. Saya tertarik dengan prinsip-prinsip yang diajukan oleh Denny dan oleh karenaya mohon klarifikasi lebih lanjut. Pertanyaan pertama adalah pada prinsip nomor dua tentang equal right "dengan catatan". Saya bilang "dengan catatan" karena njenengan tidak membolehkan aspirasi politik warganegara yang ingin mendirikan Darul Islam (for this matter mungkin juga Darul Kristen atau Darul Hindu, dsb). Mohon dijelaskan apa alasannya.&lt;br /&gt;Kedua, saya ingin klarifikasi prinsip ketiga. Mohon dijelaskan alasan yang mendasari pentingnya kita menggantungkan diri semata-mata pada ilmu-ilmu modern untuk keputusan-keputusan yang menyangkut nasib warganegara? Saya justru punya pendapat sebaliknya. Saya pikir, sekarang ini justru saatnya kita mengenalkan dengan lebih aktif nilai-nilai Islam dalam hal-hal yang begitu penting. Saya ambil contoh dalam kebijakan ekonomi. Kalau kita mengandalkan semata-mata pada ilmu ekonomi, maka kita ndak boleh nangis kalau hutan kita gundul, minyak kita habis, buruh kita tetep miskin, dsb. Konsep seperti marginal cost, marginal produk tak memberi tempat pada orang yang tambahan kontribusinya dikit dapat banyak. Jadi dengan mengandalkan semata-mata pada ilmu ekonomi, apa yang terjadi dengan buruh NIKE ya boleh-boleh saja. Wong kontribusinya dikit ya dapatnya dikit dong. Kami yang punya kapital besar, beresiko besar, ya tentunya berhak dengan hasil besar dong. Apa salahnya?&lt;br /&gt;Kalau menurut saya, salahnya ya rakus itu. Mentang-mentang perhitungan-perhitungan yang berdasarkan ilmu-ilmu modern membolehkan orang berbuat rakus, terus dibiarkan saja. Saya pikir, kalau kita bisa memasukkan konsep Islam seperti konsep "dalam harta kita ada hak orang miskin", ilmu ekonomi akan tambah cakep.&lt;br /&gt;Saiful Mujani:&lt;br /&gt;Mas Hadi, Saya kira menarik juga didiskusikan di forum ini bagaimana praktek "eknonomi Islam" berhasil atau gagal dilaksanakan. Barangkali anda, atau teman-teman yang lain, bisa cerita lebih lanjut dari bank muamalat dan lembaga-lembaga ekonomi lainnya di tanah air. Saya sangat awam dalam soal ini. Ukuran suksesnya seperti apa, dan kalau dibandingkan dengan bank konvensional performance-nya seperti apa. Dalam rangka masyarakat yang plural dan demokrasi, saya kira kelompok masyarakat punya hak untuk mempraktekkan varian lembaga ekonomi apapun sesuai dengan yang mereka yakini, termasuk apa yang disebut ekonomi Islam. Kita lihat ini sebagai bagian dari masyarakat. Ini hanya akan menjadi masalah kalau lembaga ekonomi ini, atau yang lain, dari kelompok tertentu di masyarakat dijadikan semacam kebijakan publik di mana semua warga harus menganut sistem ini. Ini pun sebenarnya tidak masalah kalau memang ekonomi Islam punya performance yang lebih baik secara praktis, bukan hanya di tingkat komunitas kecil tapi juga di tingkat makro. Saya kira penganut agama lain pun akan menerima sistem Islam ini bila memang ia unggul dan lebih rasional. Maka akan bagus juga kalau kita bisa menunjukkan negara yang sistem ekonominya berdasarkan Islam dan berhasil. Bagaimana Iran atau Saudi Arabia? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10893140-110907767705355571?l=makalahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://makalahislam.blogspot.com/feeds/110907767705355571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10893140&amp;postID=110907767705355571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110907767705355571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110907767705355571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://makalahislam.blogspot.com/2005/02/teologi-negara-sekular-substansi-dan.html' title='TEOLOGI NEGARA SEKULAR: SUBSTANSI DAN METODOLOGI'/><author><name>makalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11578463260023202037</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10893140.post-110865948320456008</id><published>2005-02-17T18:49:00.000+02:00</published><updated>2005-02-17T19:04:13.603+02:00</updated><title type='text'>DIALOG KRISTEN-ISLAM</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Satu tanggapan terhadap Hans Kung&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;oleh: Seyyed Hossein NasrGeorge Washington University, Washington D.C.&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;SUNGGUH merupakan kebahagiaan bagi saya untuk dapat menanggapi makalah Professor Hans Kung tentang hubungan-hubungan Islam Kristen. Sudah barang tentu sangat terlambat sekali di masa sejarah manusia ini semata-mata mengabaikan penyajiannya yang sarat dengan kata-kata basi dan diplomasi ini. Saya ingin, oleh karenanya, mencermati isu-isu penting sekali yang telah dikemukakan dengan penuh kesadaran pada kesulitan-kesulitan yang ada di wilayah ini dan dengan keberanian yang dibutuhkan untuk secara langsung mengkonfrontasikan halangan-halangan yang ada dan yang telah digarisbawahi Kung. Betapapun juga, ada perbedaan-perbedaan amat penting yang terdapat di dalam interpretasi Islam tentang beberapa hal ini. Hans Kung telah memulai pagi hari ini dengan suatu silogisme Aristotelian, bahwa tidak mungkin ada kedamaian tanpa kedamaian di antara agama-agama, bahwa kedamaian tidak mungkin ada tanpa dialog, dan bahwa dialog tidak mungkin ada tanpa pemahaman. Dan karena itu, saya akan mulai catatan-catatan saya dengan mengupas hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kedamaian merupakan tujuan dialog keagamaan --sebuah tesis yang tentu saja dapat diperdebatkan karena kebenaran datang sebelum kedamaian dan kedamaian mengikuti kebenaran-- maka kita harus membicarakan Islam apa adanya, sebagaimana yang diterima oleh hampir satu milyar pemeluknya, bukan sebagaimana yang kita maui agar kita meneruskan dialog dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menempatkan diri saya pada posisi ini hari ini sebagaimana saya selalu dan berbicara dari perspektif Islam tradisional. Seluruh pertanyaan yang akan saya jawab, yakni pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan al-Qur'an, tabiat Nabi Muhammad dan sebagainya, akan dijawab dengan cara seperti itu yang merupakan tanggapan-tanggapan saya yang telah disampaikan di Lahore, Kairo, Marakesy, atau beberapa tempat lain di dunia Muslim. Jawaban-jawaban tersebut cukup menarik perhatian orang-orang terpelajar di kota-kota tersebut dan kebanyakan mereka membela posisi-posisi yang ditawarkan di dalam tanggapan-tanggapan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan bahwa Kung telah mengambil sebuah langkah menuju pemahaman tentang Islam. Langkah Kung ini jauh dari posisi yang menunjukkan sikap-sikap Katolik dan sebagian besar Protestan terhadap Islam sejak John dari Segovia dan Nicholas Cusanus, kardinal-kardinal besar abad kelima belas, yang dibalas (dijawab) dengan kekecewaan menyusul Konsili Florensa. Sikap itu tidak lain dari semacam diplomasi yang santun vis-a-vis (berhadapan dengan) Islam, sebuah sikap yang terus dijalankan selama hampir lima ratus tahun, dan meski menghasilkan persahabatan-persahabatan, toh tidak pernah memecahkan problema-problema teologis mendalam yang diciptakan oleh pertemuan Kristen dan Islam. Saya teringat bahwa persis sembilan tahun lalu di musim gugur yang indah, saya berbahagia sekali memimpin sekelompok teolog Muslim ke Roma untuk sebuah dialog Kristen-Islam. Kami bahkan saat itu dibawa ke Assisi. Saya diperkenankan menunaikan shalat zhuhur dengan dua orang lain di tempat St. Francis yang agung itu memperoleh stigmata (tanda yang ditorehkan dengan paku ke badan orang-orang suci-pen.). Itu adalah tindakan yang luar biasa dari tuan rumah kami, tetapi tetap tidak memecahkan masalah-masalah teologis Kristen-Islam. Dan masalah-masalah yang tidak terpecahkan itu adalah masalah-masalah yang sebenarnya disinggung Kung sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenankan saya memulai, pertama-pertama, dengan menyatakan bahwa sebagai seorang Muslim saya senang Kung telah menampilkan Islam dengan serius secara teologis. Tetapi dengan mengemukakan fakta ini tentang perhatiannya terhadap realitas Islam, saya memiliki beberapa kritik terhadap upayanya yang sejak awal mendefinisikan Islam sebagai "suatu unsur yang terus menerus berubah sepanjang abad." Adalah sangat penting untuk tidak menyamakan pengertian dewasa ini tenting perubahan menurut orang-orang Kristen dalam tradisi mereka sendiri dengan cara orang-orang Muslim membayangkan Islam yang sesungguhnya, tidak jadi soal bagaimana para sarjana Barat modern memandang sejarah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dibayangkan kesarjanaan Barat mengenai dunia Islam yang sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sama dengan konsepsi orang-orang Muslim sendiri tentang tradisi mereka dan perkembangan historisnya, dan karena itu demikian pula dengan apa yang menjadi landasan penting untuk sebuah dialog yang berhasil. Bagi Islam, bukti kuat adalah bukti kepermanenan, yang meliputi realitas pusat Islam. Ka'bah masih tetap Ka'bah, haji adalah apa yang ditunaikan Nabi Muhammad, salat lima kali sehari ya seperti yang dilakukan Sang Nabi, dan syari'ah sebagaimana dikodifikasi atas dasar al-Qur'an dan Sunnah Nabi masih menentukan realitas kehidupan keagamaan orang-orang Muslim. Malah rincian-rincian lebih kecil tentang kehidupan sehari-hari yang diatur oleh Hukum Suci, yang lebih sentral daripada formulasi-formulasi teologis dalam Islam, tetap ada untuk sebagian besar sepanjang zaman. Saya tidak ingin menyatakan bahwa ada suatu Islam monolitik; tesis yang selalu saya tentang. Semakin banyak kita mempelajari interpretasi-interpretasi dan madzhab-madzhab yang aneka ragam semakin baik, sehingga setidaknya kita tidak akan melakukan lagi kesalahan seorang mahasiswa tingkat sarjana dari Sekolah Tinggi Teologi ini lima tahun lalu, yang terbang ke Teheran tiap dua pekan dan kembali dengan "pengetahuan yang mendalam" mengenai Syi'ah dan kesatuan Islam revivalis. Saya tidak mengatakan bahwa ada sebuah Islam monolitik, melainkan apa yang ingin saya katakan adalah bahwa ide kepermanenan dalam Islam merembes ke seantero kesadaran Islam tentang dirinya sendiri, meskipun terdapat keanekaan interpretasi. Inilah yang harus dihadapi setiap orang dan bukan semata-mata mengharap agar orang-orang Muslim secara berangsur-angsur akan memperoleh sebuah konsep historis atau historistik tenting perkembangan teologia dan keagamaan mereka sendiri dari sudut pandang Barat modern supaya memungkinkan dialog. Kalaulah hal seperti ini yang dilakukan, maka sama dengan membiarkan dialog mati sejak permulaan karena kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gembira Kung menegaskan bahwa Islam adalah sebuah cara hidup yang total. Pernyataan ini lagi-lagi sudah terlalu terlambat untuk diulang-ulang dan pada dasarnya merupakan semacam tautologi [penambahan kata-kata tetapi tak memberi arti yang baru, alias pengulangan saja] yang kosong bagi banyak orang Muslim. Bahkan orang-orang yang tidak begitu taat dan tidak tahu tradisi mereka sendiri dengan baik mempertegas pernyataan tersebut yang fundamental bagi pemahaman tentang Islam. Kritik Kung terhadap extra ecclesiam nulla salus [tak ada keselamatan di luar Gereja], yang kini menjadi perdebatan sejumlah teolog Kristen, sangat penting, tetapi manakala ia memasuki persoalan jalan-jalan keselamatan yang biasa dan luar biasa kita pun tenggelam di dalam air yang sangat dalam. Saya pikir bahwa sejak Jacques Maritain, salah seorang pemikir Katolik yang lebih kontemporer, mulai berusaha menerima Islam dan agama-agama non-Kristen lain "dengan serius" dengan menyebutkan mistisisme natural dan super-natural (mystique naturelle et mystique supernaturelle) dan juga mengenai keselamatan biasa dan luar biasa, sebuah jenis baru "diplomasi" yang mungkin cocok bagi orang-orang yang disibukkan dengan urusan-urusan luar tetapi bukan bagi para teolog bergerak pelan-pelan kepada diskusi-diskusi ekumenis. Saya pikir kita harus menyingkirkan jenis "diplomasi" sopan-santun ini yang sebenarnya justru mengelak dari isu-isu dasariah tentang kebenaran dan kepalsuan jika memang ada perjalanan menuju suatu dialog serius. Baik lelaki maupun perempuan diselamatkan Tuhan dan itu adalah luar biasa --dalam semua hal menjadi manusia sebenarnya adalah luar biasa-- atau mereka tidak diselamatkan sama sekali. Islam, sudah barang tentu, menolak dalam suatu bentuk kategoris perlawanan antara cara-cara keselamatan biasa dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, Hans Kung mempunyai keberanian untuk mengajukan persoalan kepribadian Nabi Muhammad. Apa yang dalam jantung kesalahpahaman Islam-Kristen bukan hanya doktrin-doktrin, yang secara teologis dan metafisis, dapat diperhatikan, adalah warisan kebencian ribuan tahun dari orang-orang Kristen terhadap pendiri Islam ini. Seseorang dari negeri yang sama dengan Kung, Enrico dari Meinz, yang pada tahun 1142 menulis Vita Mahometi dalam bahasa Latin, sebuah karya yang sudah dibaca di seluruh Eropa, menampilkan semacam sikap polemis yang menyerang Nabi Muhammad, yang dominan di Barat selama sembilan ratus tahun. Malah sekarang, dengan segala kata-kata hambar dan deklarasi-deklarasi diplomatik, dan bahkan isyarat-isyarat kemanusiaan terhadap Islam, dan bahkan di dalam deklarasi Vatikan 1962, Nabi Islam tetap saja selalu dipinggirkan, sebagaimana telah ditegaskan oleh Kung tadi. Bagaimanapun juga tidak ada kemungkinan bagi dialog jika kepribadian Nabi Muhammad tidak dimengerti. Di bagian pertama esainya, Kung rnembuka pintu, tetapi di bagian kedua ia menutupnya bagi orang-orang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengupas masalah tersebut, izinkan saya kembali sejenak kepada al-Qur'an dan lalu kepada Nabi Muhammad. Kung mengatakan bahwa al-Qur'an sama sekali tidak menentukan lebih dahulu perkembangan Islam. Saya katakan bahwa al-Qur'an menentukan lebih dahulu perkembangan Islam dalam setiap arah. Yaitu bagaimana orang-orang Muslim selalu mempertimbangkan realitas Firman Ilahi. Segala hal yang timbul dari al-Qur'an dalam bentuk ulasan-ulasan, yang barangkali dari titik pandang sarjana Barat modern muncul menjadi tambahan-tambahan luar dan penambahan-penambahan selanjutnya yang asing bagi nash yang diwahyukan, dilihat dari titik pandang Islam sebagai yang tumbuh dari substansi al-Qur'an itu sendiri, dari akar-akar wahyu al-Qur'an yang daripadanya itu adalah suatu perluasan. Oleh sebab itu, jika kita ingin memahami peran sentral al-Qur'an, maka penting memahami bagaimana orang-orang Muslim melihat al-Qur'an sebagai yang menentukan seluruh kehidupan Islam. Saya kembali lagi ke isu ini: analisis Barat non-Islam yang selama berabad-abad didasarkan pada pemisahan antara al-Qur'an dan ulasan-ulasannya (interpretasi-interpretasinya) yang tradisional, tidak akan menolong dialog dengan orang-orang Muslim, sebab dalam perspektif Islam, perkembangan seluruh aspek tradisi yang berbeda selama berabad-abad didasarkan pada al-Qur'an, Dan hal ini membawa saya pada isu lain yang sangat signifikan dalam konteks ini, yakni: persoalan peran Nabi Muhammad dalam hubungannya dengan al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah mungkin untuk mengatakan bahwa seluruh cara dari orang-orang Syi'ah ekstrim hingga orang-orang Hanbaliyyah di Damaskus, dari para Sufi yang paling esoterik hingga ahli-ahli fiqh yang paling eksoterik, yang meliputi spektrum teologi dan pemikiran Islam orthodoks, tak satu pun dari mereka itu pernah menerima pandangan selain bahwa Nabi Islam menerima wahyu al-Qur'an kata demi kata dari langit. Al-Qur'an adalah Firman Tuhan dan bukan firman Nabi. Ada baiknya saya tidak menyebut nama-nama tertentu, khususnya teman dekat saya, Fazlur Rahman, tetapi karena Kung menyebutnya, maka menjadi penting untuk menanggapi hal ini dengan kembali kepada sarjana Muslim yang termasyhur itu. &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Jurnal/Kung2.html#Fazlur"&gt;Saya kutipkan dari Kung&lt;/a&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun seseorang ingin menyelesaikan persoalan Islam tentang asal al-Qur'an, saat ini adalah penting bahwa al-Qur'an sebagai firman Tuhan dipandang pada saat yang sama sebagai firman Nabi yang manusiawi. Pandangan ini juga diakui bersama oleh refleksi ilmiah Muslim (semisal karya seorang Pakistan, Fazlur Rahman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar-benar menyedihkan untuk merujuk kepada sebuah kasus yang berdiri sendiri, sekalipun ia seorang sarjana terkenal, dan memandang sebelah mata kepada kepercayaan-kepercayaan satu milyar orang Muslim yang menyangkut tabiat al-Qur'an dan hubungannya dengan Nabi. Ini menyedihkan karena hal itu menghancurkan, sejak permulaan, kemungkinan memahami dan menciptakan kedamaian. Pada sisi lain sebuah dialog, seseorang tidak dapat mengambil sudut pandang yang tak bisa diterima oleh pihak yang diajak berdialog, sudut pandang yang ganjil dan hampir tidak diterima oleh setiap otoritas yang serius di dunia Islam, tanpa pandang bulu; apapun warna politik atau teologi yang ia punyai. Oleh karena itu, mengambil pandangan seperti itu sebagai sebuah kemungkinan untuk memudahkan dialog dengan dunia Kristen atau dengan dunia Barat pada umumnya tidak memberikan jawaban kepada realitas situasi yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin sama sekali membawa sebuah wacana berdasarkan kata-kata hambar diplomatis tetapi lebih baik membawa masalah-masalah teologis esensial yang berkaitan. Saya tahu bahwa tak seorang Muslim pun, bahkan tidak juga seorang yang sudah tak lagi tinggal di dunia Islam (dar al-Islam), yang mempunyai tulisan-tulisan yang dapat diterima di setiap negara Islam, yang tidak menyatakan bahwa al-Qur'an adalah Firman Tuhan. Seseorang harus mengerti dengan sangat jelas tentang hal ini dan tentang peran Nabi dalam proses pewahyuan Teks Suci. Itu adalah karena kepercayaan Islam pada al-Qur'an sebagai Firman Tuhan yang langsung bahwa setiap anggapan tentang Nabi Islam sebagai yang mempelajari pandangannya tentang sejarah suci dan Kristologi dari sumber-sumber Yahudi dan Kristen merupakan penghujatan terbesar di mata orang-orang Muslim. Izinkanlah saya mengupas isu ini dengan sangat jelas. Semoga hari ini menjadi saat yang tepat untuk mengangkat kembali unsur non-Arya, Semitik, dari Kristen yang jelas secara perlahan-lahan dipudarkan di Barat karena Kristen telah ditakdirkan untuk menyelamatkan keseluruhan benua (Eropa) yang dikuasai orang-orang non-Semitik. Meskipun kenyataan bahwa kita menemukan orang-orang Swedia dan Jerman yang mempunyai nama David, Eropa Kristen jauh kurang Semitik dalam orientasi ketimbang bagian dunia Islam non-Arab. Seorang Persia lebih dekat kepada dunia Ibrahim daripada seorang Swedia, biarpun keduanya adalah Indo-Eropa, keduanya juga orang Arya, dan keduanya sama-sama memiliki rumpun bahasa dan latar belakang etnik yang sama. Kalau anda ingin menghancurkan proses Eropanisasi Kristen, itu hal lain; hal tersebut tetap merupakan urusan para teolog Kristen, dan saya tak akan membahasnya di sini. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan merelatifkan Kristologi al-Qur'an, seakan-akan itu adalah sebuah kebetulan historis. Ini tidak mungkin bisa diterima oleh seorang Muslim. Harus selalu diingat bahwa menurut ajaran Islam tentang kenabian, seorang nabi tidak berhutang-budi apa-apa kepada siapapun; Tuhan mengajar nabi-nabi-Nya tentang segala sesuatu, dan bagi Tuhan mungkin mengajar dua versi yang berbeda tentang realitas yang sama dalam konteks dua agama yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh persoalan Kristologi yang menjadi inti makalah Hans Kung, dari sudut pandang Muslim akan menjadi isu ini: Apakah mungkin atau tidak bagi Tuhan untuk menginginkan dua kemanusiaan (sifat manusia) di bumi memahami sebuah peristiwa yang sangat penting dengan dua cara yang berbeda? Itulah persoalan krusial. Apakah Kristus disalib atau tidak? Al-Qur'an mengatakan tidak; ia mengatakan bahwa Yesus tidak disalib. Dan dengan penolakan tersebut maka bermunculanlah semua persoalan lain dan semua problema yang terjadi karena kepercayaan kepada penyaliban, seperti mengenai dua tabiat Kristus sebagaimana diinterpretasikan oleh teologi Barat dan yang semacamnya. Bila kita menerima versi al-Qur'an, versi Kristen tentang Yesus harus ditolak. Bila kita menerima versi Kristen, bahkan versi Kristen-Yahudi, versi al-Qur'an tidak bisa diterima. Lebih jauh, membayangkan bahwa al-Qur'an mempunyai Kristologi yang salah sama sekali memustahilkan dialog apapun dengan Islam. Itu sama dengan mengatakan bahwa sebagian dari Kristus dilahirkan dari Maria sang perawan dan adalah Logos, dan sebagian lain adalah suatu "tambahan." Perlu senantiasa diingat bahwa bagi orang-orang Muslim al-Qur'an, keseluruhan al-Qur'an, bukan hanya bagian-bagiannya, adalah Firman Tuhan. Orang-orang Muslim tidak akan pernah bisa menerima pandangan bahwa bagian-bagian dari al-Qur'an diilhami secara tak langsung dan sangat mulia, sementara bagian-bagian lain merupakan penambahan-penambahan dari pandangan-pandangan yang lazim dalam masyarakat Makkah atau di antara para peziarah (haji) yang datang dari utara, atau dari Waraqah, sepupu Nabi, yang berbicara dengan Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat penting membahas isu ini, dan saya pikir di masa depan bila ada sebuah dialog yang sungguh-sungguh tentang Islam-Kristen dalam masalah Kristologi, dialog itu harus berkenaan dengan isu tentang apakah epistemologi modern dan filsafat modern memperkenankan sebuah realitas tunggal dilihat dengan dua cara yang berbeda tanpa menyebabkan apa yang tampak kepada pikiran modern sebagai kontradiksi-kontradiksi logis. Dari sudut pandang filsafat tradisional, adalah mungkin bahwa sebuah realitas tunggal --khususnya tatanan tujuan akhir Kristus-- dilihat dengan dua cara oleh dua dunia yang berbeda, atau dari dua perspektif agama yang berbeda, tanpa suatu kontradiksi inti (batini). Filsafat Barat modern lah yang tidak memperkenankan hal seperti itu. Dengan menciptakan suatu persesuaian yang tepat antara realitas yang dipahami dan pengetahuan tentangnya, sementara menegasikan tingkatan-tingkatan yang terdiri dari banyak bagian atau hirarki wujud yang bermacam-macam, filsafat Barat modern menolak kemungkinan bahwa Tuhan didalam kekuatan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas bisa menciptakan dua komunitas dunia besar yang memeluk dua pandangan yang berbeda tentang tujuan duniawi Kristus. Seseorang dapat menafsirkan Trinitas Kristen sebagai ketentuan Keesaan Ilahi, atau sebagai Nama-Nama Ilahi dalam bentuk trinitarian, atau menawarkan interpretasi-interpretasi teologis lain agar memuaskan orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen, sekurangnya orang-orang yang memahami perspektif metafisis dan yang memahami sudut pandang esoterik. Tetapi ketika muncul pertanyaan tentang kehidupan Kristus, kehidupan historisnya, pada tingkat fakta versi Kristen atau Islam lah yang dipegang. Pada tingkat empiris orang tidak bisa memegang keduanya sekaligus, paling tidak menurut kerangka epistemologi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Islam tidak akan pernah menerima bahwa Kristologi Islam adalah palsu. Dan dengan mengatakan itu, orang dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang Muslim dengan demikian sangat berbeda dengan orang-orang Kristen anonim, yang dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang Kristen oleh teolog-teolog Kristen tertentu. Saya akan menjawab pertanyaan yang diajukan Hans Kung untuk orang Muslim, jika secara rendah-hati saya dapat berbicara atas nama teman-teman yang seagama dengan saya, dengan mengatakan bahwa teolog-teolog Kristen tertentu menggolongkan orang-orang Muslim ke dalam orang-orang Kristen anonim tidak sama dengan mengatakan bahwa orang-orang Muslim juga menggolongkan Kristus ke dalam seorang Muslim anonim. jawaban Islam ialah bahwa orang-orang Muslim tidak melakukan itu, Tuhanlah yang telah melakukannya (menjadikan Kristus sebagai seorang Muslim). Adalah Dia yang mewahyukan kepada orang-orang Muslim sebuah doktrin Islam tentang Kristus. jika ayat-ayat tertentu al-Qur'an seperti ayat-ayat Surat Maryam adalah tidak benar, maka dengan kriteria apa, orang-orang Muslim harus menerima ayat-ayat lain al-Qur'an? Jika ayat-ayat tertentu al-Qur'an ditolak dengan cara argumen atau alasan ekstrinsik seperti berteman dengan orang-orang Kristen, atau mencapai kedamaian dunia atau masuk ke dalam Persatuan Bangsa-Bangsa, atau alasan-alasan duniawi lain walaupun itu terpuji, maka sisa (ayat-ayat lain) al-Qur'an harus juga ditolak sebagai Firman Tuhan. Saya amat keras dalam kritik ini karena hal tersebut sangat esensial. Apa kebaikan yang akan dilakukan jika seorang pribadi seperti Hans Kung akan menggunakan usaha-usahanya selama sepuluh tahun yang akan datang dengan mencoba mengembangkan sebuah model untuk dialog dengan Islam yang tidak sesuai dengan realitas apa pun pada sisi Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh persoalan tentang peranan Nabi dalam agama, oleh sebab itu, berhubungan dengan pemahaman Islam tentang Tuhan sebagai kebenaran keagamaan langsung, yang mengajar dan memerintah sendiri nabi-nabi-Nya. Jadi, adalah mungkin bahwa sebuah realitas duniawi yang tunggal tidak menghabiskan seluruh realitas prototipe Ilahi atau samawinya dan bahwa realitas duniawi yang lain dapat merefleksikan aspek lain dari realitas model asli esensial yang tengah dipersoalkan. Di sini saya akan menanggung risiko kritik dan ejekan sebagai seorang Muslim, dan mengatakan bahwa manakala al-Qur'an menyatakan bahwa Kristus tidak disalib, ini tidak harus berarti bahwa Tuhan tidak menginginkan segmen kemanusiaan lain melihat realitas ini juga dengan suatu cara yang berbeda. Apa yang dimaksudkan ialah bahwa cara pandang Islam terhadap Kristus meniadakan kemungkinan penyalibannya. Fakta ini telah didiskusikan dan diperdebatkan secara teologis selama berabad-abad. Sebuah tragedi besar bahwa tradisi Islam dalam perbandingan agama sangat sedikit diketahui di dunia Barat. Teman saya dari India, Veena Das, pernah menyinggung sesuatu seperti masalah ini yang berkaitan dengan hubungan antara Islam dan Hinduisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konfrontasi antara Islam dan Kristen, isu bahwa apa yang dikatakan Tuhan dalam al-Qur'an mengenai Kristus diterima oleh orang-orang Muslim biasa sebagai satu-satunya cara melihat Kristus, harus diberikan pertimbangan pertama, sebagaimana fakta bahwa perkataan "Aku adalah jalan, kehidupan, dan kebenaran" diterima oleh orang-orang Kristen biasa dengan makna bahwa Kristus Kristen adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kehidupan, dan satu-satunya kebenaran. Harus disadari bahwa pandangan Islam atau Kristen tidak menghabiskan kemungkinan-kemungkinan realitas "Kristik" ("Kekristusan") di alam semesta yang lain seperti yang dikehendaki Tuhan. Persoalan di sini bukanlah menerima bahwa Kristologi Islam diciptakan dari sisa-sisa pandangan dari sejumlah kecil komunitas Timur yang oleh Nabi Muhammad dipilih, dikumpulkan dan selanjutnya dibuat sebagai Kristologi al-Qur'an. Kristologi al-Qur'an, sebagaimana dikatakan Kung dengan cukup benar, sesuai. sepenuhnya dengan seluruh teologi Islam dan itu sebenarnya adalah bagaimana Tuhan menginginkan orang-orang Muslim melihat Kristus. jadi, sederhana saja. Apakah lalu Kristologi al-Qur'an ini menghabiskan realitas Kristus atau tidak, al-Qur'an tidak menerangkan-nya, tetapi al-Qur'an meninggalkan pintu terbuka sedemikian rupa agar memungkinkan suatu persesuaian antara dua agama ini tanpa merusak arti teks pesan tertulis al-Qur'an itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sama dengan persoalan al-Qur'an sebagai Firman Tuhan. Artikel terkenal Wilfred Cantwell Smith, "Is the Koran the Word of God?", tentu saja merupakan esei yang sangat menantang bagi standar karya akademis Barat dan bagi para teolog Barat yang menyibukkan diri dengan isu utama ini. Tetapi sebenarnya persoalan ini adalah bahwa orang tidak dapat menyamakan dua sisi keseimbangan. Cantwell Smith mengatakan bahwa sarjana Barat harus memberi sedikit dan sarjana Muslim harus memberi sedikit, sehingga dalam suatu keadaan mereka berdua bisa bertemu. Sarjana Barat akan mengatakan bahwa al-Qur'an boleh jadi merupakan Firman Tuhan, dan orang Muslim akan mengatakan bahwa al-Qur'an diilhami tanpa semuanya merupakan Firman Tuhan kata demi kata. Ini bukanlah cara yang akan dilakukan. Persoalannya adalah apakah al-Qur'an itu Firman Tuhan atau bukan Firman Tuhan. Dalam dialog yang manapun saya pikir sungguh penting membawa sikap Muslim kepada persoalan ini. Apakah seseorang adalah Sunni atau Syi'i, Wahhabi atau Sufi, atau bahkan anggota kelompok kecil seperti cabang Isma'iliyah, tentang isu ini sebenarnya tidak ada perbedaan di antara orang-orang Muslim sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang izinkan saya kembali kepada pembicaraan Kung tentang unsur-unsur yang sama antara Islam dan Kristen. Meskipun tidak sepenuhnya menuruti susunan yang logis, saya harus kembali pada persoalan Kristus dan Qur'an karena persoalan ini sesuai dengan apa yang telah saya katakan mengenal al-Qur'an. Kung menyebut empat hal dasar. Pertama, ia mengatakan bahwa Islam dan Kristen sama-sama mempunyai ide keesaan Tuhan. Saya sepenuhnya setuju, terlepas dari fakta masih ada teolog-teolog Islam, bahkan pembawaan agung al-Ghazali dalam sebuah bukunya yang termasyhur tentang Injil-Injil, yang telah menginterpretasikan Trinitas Kristen sebagai tiga tuhan Orang-orang Muslim biasanya tidak mempercayai bahwa Tuhan Kristen terdiri dari Tuhan, Maria dan Kristus. Saya tidak tahu siapa di antara para sarjana Muslim yang bilang begitu itu pada Kung. Bagaimanapun juga, ini sebenarnya adalah pendapat minoritas tentang tatslits atau Trinitas, ini bukanlah interpretasi Muslim yang umum tentang Trinitas Kristen dan bukan begitu secara historis. Tetapi Trinitas Kristen sebagaimana biasanya dipahami, yang terdiri dari Bapak, Anak dan Roh Kudus, meski dikritik oleh seorang manusia seperti al-Ghazali yang adalah teolog dan Sufi, dipahami oleh banyak ahli metafisika Sufi sebagai tiga hipostasis yang tidak merusak keesaan Tuhan. Isu ini, bagaimanapun juga, bukan problema besar antara Islam dan Kristen. Banyak sekali rujukan yang bisa diperoleh dari pemikir-pemikir terbesar baik madzhab Sunni maupun Syi'i yang berhubungan dengan isu ini. Dan banyak puisi berbahasa Persia dan Arab yang menunjukkan, lewat bahasa puitik yang indah, fakta bahwa Trinitas Kristen selamanya sama dengan tiga aspek ilahi yang berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa penjelasan-penjelasan ini tentang Trinitas secara sempurna sesuai dengan, katakan saja, interpretasi-interpretasi Augustinian maupun Thomistik tentang Trinitas. Tetapi saya setuju dengan Kung bahwa pendapat mengenai Tuhan yang esa merupakan titik persesuaian yang mendominasi dan sentral antara kedua agama ini, Islam dan Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap klaim Kung bahwa orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim percaya kepada Tuhan sebagai Tuhan historis, saya tanggapi dengan ungkapan negatif. Banyak sarjana Barat terus menulis bahwa Islam, seperti Yahudi dan Kristen, adalah sebuah agama historis. jika seseorang memaksudkan hal tersebut adalah bahwa Islam mempunyai permulaan dalam sejarah, ya; bahwa Islam sendiri tertarik pada sejarah keagamaan, ya; bahwa apa yang kita lakukan dalam sejarah mempengaruhi entelechry kita, tujuan akhir kita, ya; karena setiap orang Muslim meyakini bahwa apa pun yang kita lakukan di sini akan mempengaruhi kita di saat kematian, dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tentang semua yang telah dikatakan tadi, harus diingat bahwa masih terdapat perbedaan yang sangat besar. Pertama, di dalam Islam, sejarah tidak dipandang sebagai yang mempengaruhi sifat Tuhan. Tuhan tidak menginkarnasi dalam sejarah. Allah tidak berubah. Apa yang terjadi dalam sejarah adalah karena Kehendak Tuhan dan tidak mempengaruhi Sifat-Nya. Dengan begitu, makna sejarah dalam Islam sama sekali tidak sama dengan makna sejarah sebagaimana dalam Kristen. Bahkan sejarah suci yang lazim dalam Islam, Kristen dan Yahudi, diperlakukan dengan cara yang sepenuhnya berbeda di dalam al-Qur'an. Al-Qur'an lebih tidak peduli pada signifikansi historis sejarah suci ketimbang Bibel, dan lebih tertarik pada signifikansi moral peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sejarah. Al-Qur'an menceritakan kisah-kisah para nabi agar kita memetik pelajaran moral. Ia amat tidak tertarik pada persoalan siapa yang datang sebelum siapa, atau siapa yang datang sesudah siapa. Ini adalah sebuah hal penting dalam dialog sekarang ini antara Islam dan Kristen. Sementara Kristen, paling tidak Kristen Barat sekarang, mempunyai sebuah kesadaran kuat terhadap momen tertentu dalam sejarahnya sendiri, dan mengambil "waktunya" dengan serius sekali, Islam sama sekali tidak mengambil hal itu dengan serius, sejauh menyangkut signifikansi teologis sejarah. Inilah salah satu alasan kenapa begitu banyak prediksi yang dibuat di universitas [Harvard] yang termasyhur ini tiga puluh tahun lalu saat saya sebagai mahasiswa di sini dengan beberapa sarjana Islam lain yang terkemuka di dunia Barat yang tertarik pada masa depan Islam semuanya menjadi salah, masing-masingnya salah. Prediksi-prediksi seperti itu didasarkan pada semacam penjelasan historis yang sama sekali tidak bertalian dengan realitas waktu dan sejarah bagi dunia Islam. Oleh sebab itu, saya harus menyatakan dengan tegas berkenaan dengan isu kedua ini bahwa terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam arti "historis" di dalam konteks Islam dan Kristen Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut hal ketiga, yaitu bahwa baik dalam Islam maupun Kristen, Tuhan adalah wujud yang kepadanya manusia berdo'a (tentu saja di sini dengan "manusia" saya maksudkan homo dan bukan vir [lelaki], karena itu, lelaki atau perempuan berdo'a), saya sependapat sepenuhnya dengan Kung dengan satu kualifikasi. Dalam konteks sekarang dua agama ini, mengingat adanya fakta bahwa orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen berdo'a, jika anda, bertanya pada saya apakah perbedaan dalam sikap, saya akan menjawab bahwa pada tingkat do'a individual mereka (orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim) adalah sama. Orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim berdo'a dan kedua agama ini menekankan do'a individual kepada Tuhan sebagai Tuhan yang mendengar do'a kita. Mengenai do'a Kanonikal (resmi, menurut undang-undang gereja), ia mempunyai peranan yang sama bagi orang-orang Muslim sebagaimana misa bagi orang-orang Kristen. Sebenarnya kedua do'a itu adalah upacara keagamaan ekstra individual yang melampaui tingkat do'a individual terhadap Tuhan. Bagaimanapun, ada sebuah tipe do'a yang tidak sama-sama dimiliki oleh kedua agama ini pada momen sekarang dari sejarah keduanya, meskipun pada suatu waktu (di masa lalu) tipe do'a itu adalah lazim baik di Barat maupun di Timur. Itulah yang disebut do'a interior, do'a hati, atau do'a inti yang penting dalam Islam. Itulah.yang membuat banyak perbedaan dalam sikap terhadap do'a, dan arah do'a diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Saya hanya ingin mengatakan hal ini sambil lalu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ada isu tentang Tuhan sebagai kasih, dan saya senang sekali Kung telah mengungkap isu ini. Penting diingat bahwa Tuhan dalam Islam bukan hanya Tuhan keadilan, sebagaimana cukup kerap dikatakan, tetapi juga Tuhan kasih. Dalam konteks ini, hal yang telah disebut, yaitu bahwa orang-orang Kristen yang berbahasa Arab juga menggunakan nama Allah, adalah penting. Nama Allah adalah nama yang disucikan oleh wahyu al-Qur'an, tetapi tidak mentiadakan konsepsi Kristen tentang Tuhan, seperti diceritakan oleh setiap orang Arab Kristen kepada anda. Buku-buku tebal penuh pengetahuan yang telah ditulis dalam bahasa-bahasa Eropa tentang Islam mengakui bahwa Islam hanya menekankan keadilan Tuhan. Sebenarnya orang-orang Muslim menekankan bahwa Allah adalah kasih dan bahkan pengasih sebelum menjadi adil, dan Dia adalah sumber semua cinta sehingga orang-orang Kristen dapat mengatakan "Allah" dan memikirkan ajaran-ajaran Kristus tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri pembicaraan ini, saya ingin kembali pada isu penting lain. Ada banyak hal menjelang akhir esai Kung yang menurut hemat saya tak ada orang Muslim yang pernah menerimanya, dan karena saya telah berjanji menjadi seksama, maka saya harus menyebut hanya beberapa saja. Salah satu dari hal ini perlu ditekankan secara khusus, dan itu adalah persoalan tentang al-Qur'an yang mengandung tradisi-tradisi yang menyesatkan. Dari sudut pandang apa yang saya katakan tentang makna al-Qur'an bagi orang-orang Muslim, tak seorang Muslim pun akan menerima pernyataan seperti itu dan dapat mengadakan sebuah dialog. Seseorang mungkin menginterpretasikan suatu bagian tertentu al-Qur'an dengan cara-cara yang berbeda. Al-Qur'an mempunyai banyak tingkat makna. Itulah kenapa menjadi mungkin bagi filsuf Peripatetik terbesar pada Abad Pertengahan, yaitu Ibn Sina, menulis sebuah tafsir tentang ayat yang sama (Ayat Cahaya [ayat al-Nur] yang pertama kali ditafsirkan oleh Ibn Sina) seperti al-Ghazali, pengkritik Ibn Sina yang mengikuti model Ibn Sina tapi menentangnya. Realitas yang mereka miliki bersama adalah ayat al-Qur'an tadi (Ayat Cahaya). Persoalan tentang tradisi-tradisi yang menyesatkan dalam al-Qur'an adalah palsu dan tidak ada orang Muslim, apa pun madzhabnya, yang akan menerima pernyataan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua berkaitan dengan ide penolakan terhadap Kristus yang telah ada sejak azali dan keseluruhan ide Logos yang telah ada sejak azali dalam Injil Keempat Johanes. Itu hanyalah menafsirkan aspek-aspek tertentu dari pemikiran Islam. Doktrin bahwa segala sesuatu telah ada sejak azali di "tangan" Tuhan diteguhkan oleh ayat al-Qur'an bi yadih-i malakut-u kulh syay' (di tangan Tuhan realitas arketipal segala sesuatu), bagaimanapun anda ingin menterjemahkan malakut sebagai arketip-arketip, akar-akar, atau asal-usul segala sesuatu. Doktrin ini diambil alih kemudian oleh metafisika Islam seperti dikembangkan khususnya oleh Sufisme yang menekankan ide tentang Logos yang telah ada sejak azali. Tentu saja ide ini tidak asing bagi pemikiran Islam, secara tulus ikhlas. Kung menekankan unsur-unsur Kristen-Yahudi dalam Kristen perlu dalam dialog mana saja dengan bentuk Arab-Semitik-Ibrahimiyah dalam Islam. Tetapi keseluruhan perkembangan Kristen Eropa, baik Jerman maupun Latin, dan teologi yang jelas-jelas mesti bersesuaian dengan suatu kebutuhan (bagi yang lain, ia tidak berkembang dan orang-orang Kristen tidak menerimanya selama dua ribu tahun) mempunyai kesesuaian dengan perkembangan teologis Islam yang luas pada kasus orang-orang Arab dan Indo-Eropa lain. Secara khusus itu jelas pada kasus orang-orang Persia dan India yang termasuk keturunan etnik yang sama dengan orang-orang Eropa, dan mempunyai jenis kekuatan-kekuatan spekulatif sama yang terlihat dalam filsafat dan teologi Islam. Kita menginginkan separuh lain dari Kristen yang diidentifikasi Kung dengan dirinya dapat sebenarnya berdialog dengan Islam, termasuk dialog tentang pra-eksistensi (keazalian) Kristus sebagai Logos dan juga Realitas Muhammad (al-haqiqah al-muhammadiyyah) dari para Sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya ingin mengakhiri pembicaraan ini dengan persoalan legalisme dan hukum yang dibicarakan Kung. Islam telah mengakui Kristus sebagai nabi cinta, seorang nabi yang menentang legalisme. Ini bukanlah tidak diketahui dalam Islam. Siapa pun yang mempunyai sedikit saja kontak dengan, misalnya, Diwan Hafiz yang dimiliki oleh setiap ahli pidato Persia di setiap rumah, mengetahui semua ayat Diwan tentang Kristus sebagai nabi Spirit (Roh), sebagai nabi Jalan (Tarekat, Tasawuf), karena ia memecahkan cetakan legal (hukum). Ini bukan sesuatu yang asing bagi orang-orang Muslim. Bagaimanapun juga, kebenaran itu di mata Muslim tidak meniadakan signifikansi hukum pada tingkatnya sendiri. Salah satu problema utama dialog antara Kristen dan Islam tepatnya adalah kesulitan besar yang dimiliki oleh banyak sarjana Kristen dalam memahami fakta bahwa hukum tidak hanya formalisme yang diserang Kristus dan bahwa dalam suatu pengertian Islam memadukan (menggabungkan) formalisme Musa terhadap hukum dengan sikap "Kristik" ("Kekristusan") dalam menghancurkan kerangka hukum "dari atas" ketika memuji-muji hukum sebagai yang amat suci dan abadi pada tingkatnya sendiri. Kemungkinan-kemungkinan dialog sangat dirasakan di sini. Tetapi serangan melawan syari'ah , melawan formalismenya, bahkan melawan keputusan-keputusannya, adalah benar-benar sulit diterima oleh seorang Muslim sebagaimana sulit diterima oleh seorang Yahudi ortodoks bila seorang menyerang keputusan-keputusan hukum yang dia anggap suci. Sebenarnya ketiadaan pemahaman tentang realitas Taurat sebagai Taurat abadi dan tentang hukum abadi Yahudi ortodoks hampir sama besarnya (seperti) dengan yang terjadi bagi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya habis. Seluruh kritik ini telah dikemukakan, namun saya ingin berterima kasih pada Hans Kung, meskipun masih banyak ketidaksetujuan saya dengan dia, atas isu-isu krusial yang dikemukakannya. Saya berharap pertemuan ini menjadi langkah awal yang diambil untuk keluar dari formalisme pertukaran-pertukaran dan kata-kata hambar diplomatis dan untuk mempunyai pertukaran-pertukaran serius yang saya harap akan membawa isu-isu yang harus dihadapi secara terbuka dan dipecahkan. Saya ingin mengakhiri pembicaraan ini dengan pernyataan yang saya dengar dari seorang teman Kristen yang terhormat, ketika gerakan ekumenis sekarang ini dimulai. Ia mengatakan, "Mari kita berkumpul dan membuat motto 'Wahai, seluruh kekuatan dunia anti-ekumenis, bersatulah'." Satu-satunya dialog keagamaan yang berharga di mata Tuhan ialah dialog yang tidak mengorbankan atas nama kebijakan pada tingkat kemanusiaan, meskipun itu kedamaian duniawi, yang dinyatakan-Nya dalam setiap agama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Makalah ini diambil tanpa diedit dari &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Jurnal/Nasr.html"&gt;Jurnal pemikiran Islam Paramadina&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10893140-110865948320456008?l=makalahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://makalahislam.blogspot.com/feeds/110865948320456008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10893140&amp;postID=110865948320456008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110865948320456008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110865948320456008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://makalahislam.blogspot.com/2005/02/dialog-kristen-islam.html' title='DIALOG KRISTEN-ISLAM'/><author><name>makalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11578463260023202037</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10893140.post-110864534866946615</id><published>2005-02-17T15:01:00.000+02:00</published><updated>2005-02-17T15:02:28.670+02:00</updated><title type='text'>dan aku pun tertawa</title><content type='html'>aku mencoba neh blog husus untuk kumpulan makalah .. semoga berhasil&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10893140-110864534866946615?l=makalahislam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://makalahislam.blogspot.com/feeds/110864534866946615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10893140&amp;postID=110864534866946615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110864534866946615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10893140/posts/default/110864534866946615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://makalahislam.blogspot.com/2005/02/dan-aku-pun-tertawa.html' title='dan aku pun tertawa'/><author><name>makalah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11578463260023202037</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
